Sudah Tahu Fenomena Baru Penyakit Mata Malas?

By On Selasa, Mei 1st, 2018 Categories : Kesehatan Mata

Braito.co.id – Mendengar kata “malas” pasti selalu berhubungan dengan hal-hal negatif. Malas belajar, malas olahraga, atau malas pergi berkencan di malam minggu karena memang tidak punya pasangan.

Bicara tentang malas, ternyata mata pun juga bisa malas. Bedanya, tak seperti sikap malas, mata malas merupakan sebuah penyakit yang sebenarnya tidak diinginkan oleh penderitanya. Sesuai dengan namanya, mata malas terjadi ketika indera penglihatan tidak mampu menghasilkan fokus pandangan yang baik karena disebabkan oleh masalah saat masih berusia anak-anak. Kondisi ini sering disebut sebagai ‘Lazy Eye’ atau Ambliopia.

Mata malas terjadi ketika perkembangan penglihatan tidak sempurna. Sejak lahir, manusia membutuhkan stimulasi visual untuk mengembangkan daya penglihatannya. Hingga usia delapan tahun, berbagai hal yang mengganggu jelasnya penglihatan bisa menyebabkan mata malas ini.

Ambliopia, menurut dr. Setiyo Budi Riyanto, Sp.M., ahli mata Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya, bisa disembuhkan dengan bantuan dokter mata bila diketahui sebelum usia delapan tahun. Namun kalau gangguan ini dibiarkan setelah melewati usia tersebut bisa menjadi cacat pada mata selamanya.

“Sangat penting mendiagnosis gangguan ini secara dini,” ujar dokter Budi. Ia menjelaskan bahwa gejala ambliopia tidak signifikan. Namun diawali ketika mata anak terlihat tidak bergerak sama dengan mata lainnya, kerap menyipitkan mata, atau memutar kepala ketika melihat suatu objek.

Karena masih anak-anak, mereka mungkin tidak akan mengeluhkan daya penglihatan mereka yang lemah. Tampaknya inilah tugas baru untuk para orang tua, setidaknya melakukan tes mata si buah hati untuk mengetahui apakah penglihatannya sehat atau butuh pertolongan untuk disembuhkan. Namun ada tanda-tanda bahwa seorang anak punya bakat memiliki mata malas, antara lain:

  • Astigmatisma yang besar, rabun jauh atau rabun dekat.
  • Perbedaan ukuran lensa kacamata yang besar antara mata satu dengan lainnya.
  • Sudah punya gangguan penglihatan,atau cacat mata sejak lahir. Misalnya, kelopak mata turun (ptosis), katarak atau luka pada mata.
  • Strabismus atau mata juling.

Seperti yang sudah disebutkan tadi, mata malas kemungkinan besar bisa sembuh bila terdeteksi sejak dini, ketika si penderita masih berusia di bawah usia delapan tahun.

Pertama adalah melatih pandangan sang anak. Bila kedua ukuran kacamatanya tidak sama dan berbeda jauh, mata yang paling lemah harus didorong agar bisa melakukan fokus, sama dengan mata sebelahnya. Caranya yaitu dengan menutup mata yang tidak lemah dan membiarkan mata malas tersebut melakukan kerjanya sebagai indera penglihatan. Latihan ini dilakukan beberapa jam setiap harinya.

Kedua adalah dengan bermain game. Tim peneliti dari McGill University, Kanada menemukan sebuah fakta unik, yaitu bahwa permainan Tetris bisa menjadi terapi untuk menyembuhkan mata malas. Dengan kacamata khusus, tim yang dipimpin oleh Dr. Robert Hess berhasil ‘memaksa’ mata yang malas untuk mengimbangi kinerja mata sebelahnya.

Yang ketiga dan paling penting adalah sabar. Pengobatan ini tidak membuahkan hasil dengan instan. Beda dengan iritasi mata yang bisa disembuhkan secara cepat menggunakan Braito Original. Cukup 1-2 tetes, 2-3 kali sehari untuk meredakan mata merah, mata perih, atau mata berair akibat gangguan kesehatan mata ringan. Namun, jika sakit mata berlanjut, tentu perlu segera diperiksakan ke dokter mata.

Begitu halnya dengan penyakit mata malas, diperlukan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun untuk proses penyembuhannya. Yang penting, ambliopia sudah diketahui keberadaannya dan ditangani oleh orang yang tepat.

Jadi jangan panik ketika si kecil memiliki mata malas. Beruntung kelemahan penglihatan ini diketahui lebih dini karena bisa segera diobati.

Sudah Tahu Fenomena Baru Penyakit Mata Malas? | Admin | 4.5