Memahami Ablasio Retina, Gangguan Mata yang Kerap Tak Disadari

By On Rabu, Mei 2nd, 2018 Categories : Kesehatan Mata

Braito.co.id – Pedangdut Meggy Z pernah bilang, “Daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini.” Tapi percayalah, sakit gigi masih mendingan ketimbang mengalami ablasio retina. Sebuah penyakit menakutkan yang mengancam indera penglihatan Sahabat Braito. Kenapa bisa begitu?

Orang yang mengalami ablasio retina akan merasakan bagaimana retina, jaringan di belakang mata yang berfungsi memproses cahaya, terlepas dari jaringan yang ada di sekitarnya. Saking seriusnya gangguan ini, seseorang bisa kehilangan daya penglihatannya, alias buta.

Adapun gejala-gejala dari terjadinya ablasio retina adalah sebagai berikut:

  • Muncul kilatan cahaya saat sedang melihat.
  • Terjadi gangguan mata merah, mata gatal, serta bengkak.
  • Penderita akan merasa seperti melihat bintik-bintik kecil atau benang.
  • Penglihatan menjadi agak kabur.
  • Terasa seperti melihat bayangan tirai di bagian atas atau samping mata. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa sudah ada robekan retina yang bisa berlanjut pada terlepasnya organ tersebut.

Selain harus diperiksakan ke dokter, ada baiknya mengetahui beberapa penyebab yang bisa menimbulkan lepasnya jaringan retina ini.

Mata Minus Tinggi

Mata dengan minus tinggi memiliki peluang lebih tinggi terkena ablasio retina. Selain itu, wanita hamil yang memiliki mata minus tinggi, saat proses persalinan dikhawatirkan juga bisa menimbulkan ablasio retina. Meski menurut dr. Rini Hersetyati, Sp. M., hal tersebut tak sepenuhnya benar, ophtalmologist dari Klinik Mata Nusantara ini menyarankan agar ibu-ibu hamil dengan minus tinggi melakukan pemeriksaan mata, sekitar dua minggu sebelum proses persalinan.

“Jika tidak ditemukan kerutan pada retina yang bisa menyebabkan robekan, ibu tersebut dapat melahirkan secara normal,” jelas dr. Rini.

Faktor Keturunan

Disebutkan bahwa generasi dengan orang tua yang pernah mengalami ablasio retina, rentan untuk mengalami gangguan ini.

Usia

Usia yang tak lagi muda juga bisa meningkatkan risiko terjadinya ablasio retina. Kasus yang paling sering terjadi adalah menyusutnya korpus vitreum, cairan yang mengisi bola mata, sehingga menarik retina yang melekat dan berujung pada robeknya atau berlubangnya retina.

Pernah Operasi Katarak

Orang dengan riwayat pernah melakukan operasi katarak juga memiliki kans terkena ablasio retina lebih besar.

Trauma dan Peradangan

Waspadalah bila Sahabat Braito pernah mengalami luka atau jejas yang berat pada mata karena memiliki peluang lebih besar terkena gangguan ini. Begitu pula dengan yang mengalami peradangan atau sakit mata.

Cara untuk mengobati ablasio retina adalah dengan proses operasi dengan tujuan mendekatkan dinding mata ke lubang retina, menahan agar kedua jaringan itu tetap menempel sampai jaringan parut terbentuk dan melekatkan lagi robekan. Pada kasus yang lebih sulit, dokter biasanya akan melakukan vitrektomi.

Lalu, apakah ablasio retina bisa dicegah? Jawabannya, bisa. Ketika berada di satu tempat dengan risiko mengalami trauma mata yang tinggi, gunakanlah kacamata pelindung. Untuk para penderita diabetes sebaiknya mengontrol kadar gula darah dengan lebih seksama untuk meminimalisir komplikasi pada mata.

Terakhir, bila Sahabat Braito memiliki kemungkinan mengalami ablasio retina, sebaiknya rutin mengunjungi dokter mata, minimal setahun sekali agar kondisi mata selalu terpantau.

Memahami Ablasio Retina, Gangguan Mata yang Kerap Tak Disadari | Admin | 4.5