29 Agu 2017

Memahami Lebih Dalam Fungsi Terapi Laser pada Retina

Penderita retinopati diabetik tahap awal sebaiknya segera menjalani terapi, yaitu dengan menggunakan laser yang diarahkan pada retina.

Braito.co.id - Sahabat Braito, bersyukurlah memiliki mata yang sehat karena bisa menikmati keindahan dunia dengan sempurna. Bayangkan bila suatu kali mata mengalami gangguan. Bisa saja, karena mata adalah bagian dari tubuh manusia, juga bisa mengalami kerusakan. Salah satunya adalah gangguan fungsi pada retina.

Retinopati diabetik, itulah namanya. Suatu gangguan kesehatan mata yang bisa mengakibatkan kebutaan permanen. Pada tahap awal, penyakit ini membuat penglihatan tampak kabur. Kemudian muncul bintik-bintik yang melayang. Pada tahap paling akut, retinopati diabetik ini merenggut penglihatan seseorang, selamanya.

Supaya tak sampai mengalami kebutaan permanen, jangan ragu untuk mendatangi dokter mta ketika dirasa ada gangguan pada organ mata. Menurut dr. Ari Djatikusumo, Sp.M., dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, penderita retinopati diabetik tahap awal sebaiknya segera menjalani terapi, yaitu dengan menggunakan laser yang diarahkan pada retina.

“Kalau penglihatannya tidak sampai gelap mendadak tidak perlu dilakukan pembedahan atau operasi,” jelasnya.

Namun dokter Ari memberikan catatan bahwa tindakan laser bukanlah cara untuk mengobati gangguan mata ini secara total. Terapi tersebut dimaksudkan untuk upaya pencegahan agar tingkat keparahan retinopati diabetik tak meningkat hingga tahap kebutaan. Ia mengatakan bahwa setelah terapi, pasien akan merasakan dampak yang lebih positif, namun kesembuhannya tidak mencapai 100% seperti ketika mata masih sehat.

“Tetap akan ada perbaikan penglihatan, tapi tidak sesempurna ketika belum ada gangguan,” terang dr. Ari.

Ia menjelaskan bahwa diabetes bisa memberikan komplikasi pada pembuluh-pembuluh darah di retina. Perlu diketahui bahwa di dalam retina terdapat banyak pembuluh darah. Kadar gula yang terlalu tinggi pada darah berpotensi merusak dinding-dinding pembuluh darah tersebut, yang akhirnya berdampak pada bocornya pembuluh darah sehingga darah tak mencapai sel-sel retina. Akibatnya, sel retina tidak mendapatkan oksigen yang cukup dan kerusakan pun terjadi.

“Nah, untuk mencegah keparahan terjadinya kebocoran tersebut dilakukanlah laser,” jelas pria yang juga staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKUI ini.

Sebelum dilaser, mata pasien terlebih dahulu akan diperiksa kondisinya agar diketahui tingkat gangguan yang dialami retina. Kemudian dokter akan memberikan resep obat tetes mata khusus untuk melebarkan pupil pasien. Obat ini akan membuat sinar matahari sangat terang, membuat pasien kesulitan untuk melihat sekitar dalam jangka waktu empat sampai enam jam.

Setelah diberi pemati rasa, mata kemudian akan menjalani terapi laser. Setiap kali sinar laser terfokus pada mata, pasien akan mengalami sensasi seperti melihat kilat. Begitu terapi selesai dilakukan, efek sampingnya adalah pandangan yang silau, kemudian penglihatan gelap selama beberapa menit.

Untuk kembali ke kondisi penglihatan normal dibutuhkan waktu sekitar beberapa jam. Dokter Ari menyarankan untuk penggunaan kacamata hitam agar mata bisa beradaptasi dengan baik pasca terapi laser.

Ia juga menjelaskan beberapa dampak dari terapi laser ini, yaitu kesulitan melihat pada malam hari, luas pandangan menyempit, dan ada penurunan penglihatan.

“Tapi jangan khawatir, penglihatan Anda akan membaik secara berkala,” tutur Ari.

Nah, kalau mengalami gangguan pandangan akibat kerusakan retina, segera hubungi dokter untuk mendapatkan terapi laser. Tapi kalau mengalami iritasi mata ringan, obati dengan Braito Original saja. Obat tetes mata dengan Tetrahydrozoline Hydrochloride 0,05%, dapat membantu   meredakan mata merah, mata perih, atau mata berair akibat iritasi mata ringan. Gunakan 1-2 tetes, 2-3 kali sehari agar mata cepat sembuh seperti sedia kala. Namun bila gangguan tak juga menghilang, segera pergi ke dokter mata untuk mendapatkan penanganan lebih intensif.



Hak Cipta : KapanLagi Network