24 Jun 2017

Tenarnya Harapan, Badak Sumatera Kelahiran Amerika

Nama tersebut diberikan dengan harapan bahwa Harapan, suatu saat nanti, akan menghidupkan kembali kelestarian spesiesnya.

Braito.co.id - Ketika putus asa menaungi, hanya ada satu cara untuk menghilangkannya, yaitu dengan memiliki harapan.

Ya, meski tak memiliki wujud, harapan adalah kekuatan besar yang bisa membuat kehidupan menjadi lebih baik. Kecuali berharap, gebetan yang sudah menerima pinangan orang lain suatu saat berpaling kepadamu, mungkin agak berlebihan, Sahabat Braito.

Namun ada juga Harapan yang memiliki wujud, yaitu seekor badak Sumatera. Nama tersebut diberikan dengan harapan bahwa Harapan, suatu saat nanti, akan menghidupkan kembali kelestarian makhluk yang saat ini dianggap sudah berada di ambang batas kepunahan.

Menariknya, Si Harapan ini ternyata baru pulang kampung, lho. Sebelumnya, badak jantan bercula dua tersebut dipulangkan dari sebuah kebun binatang di Amerika Serikat ke Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Harapan lahir sepuluh tahun lalu di Cincinnati Zoo. Di sana ia tidak sendiri dan hidup bersama dua saudaranya, Andalas (pejantan) dan Suci (betina). Ketiganya lahir di tahun 2007 dari pasangan Emi dan Ipuh. Duh, namanya kok mirip banget sama orang, ya?

Mengapa Harapan rela meninggalkan ‘negara impian’ Amerika Serikat’ dan pulang ke tempat nenek moyangnya, yaitu Sumatera? Sebenarnya bukan Harapan yang ingin pulang dan beli tiket penerbangan sendiri. Diharapkan bahwa kembalinya Harapan ke habitat aslinya akan memberikan secercah harapan dan semangat untuk mengembalikan kelestarian dan upaya konservasi badak Sumatera.

Perlu waktu bagi Harapan untuk menyesuaikan diri dengan makanan dan iklim Indonesia. Maklum, di Cincinnati tentu udaranya lebih dingin, sementara Sumatera lebih panas dan lembap karena dekat dengan khatulistiwa. Selain itu, jenis makanan pun juga berbeda. Namun tampaknya Harapan baik-baik saja dan mulai merasa nyaman. Para petugas di TNWK pun juga tak kenal lelah mengawasi 24 jam non-stop, termasuk memeriksa kesehatannya.

Saat ini, jumlah populasi badak Sumatera di dunia sangatlah sedikit. Diperkirakan, binatang bercula dua ini hanya tersisa sekitar 70 sampai 100 ekor saja. Waduh, kalau dibiarkan tanpa harapan, kepunahan mereka mungkin tinggal menunggu waktu saja. Karena itulah, badak Sumatera termasuk satwa yang sangat dilindungi, baik oleh Pemerintah Indonesia dan dunia, termasuk Sahabat Braito. Seperti lirik lagu Ci Ci Cuit-nya Joshua Suherman, “Jangan ditembak, jangan diburu. Lindungilah semua satwa ciptaan Tuhan,” karena badak Sumatera pun sebenarnya juga ingin berkembang biak dan meneruskan keturunannya di dunia ini, sama seperti manusia.

Jadi kalau kebetulan berpetualang ke Taman Nasional Way Kambas, kemudian bertemu dengan Harapan, selipkanlah sedikit doa bersamanya, berharap bahwa Harapan akan menjadi sosok yang mengembalikan kejayaan badak Sumatera di rumahnya sendiri.

Selamat datang kembali, Harapan. Semoga kau memberikan harapan dan semangat bagi masyarakat Indonesia untuk melestarikanmu kembali di alam nusantara.



Hak Cipta : KapanLagi Network