27 Jul 2017

Keren! Pendiri Microsoft Bikin Pesawat Terbesar di Dunia

Pesawat Stratolaunch ini memiliki bentang sayap selebar 117 meter dengan panjang dari depan ke belakang 72 meter, dan tinggi 15 meter.

Braito.co.id - Manusia kalau terlalu banyak uang itu kadang kebingungan sendiri, bagaimana cara menghabiskannya biar tidak memenuhi rekening bank.

Paul Allen, pendiri raksasa software Microsoft, punya cara tersendiri untuk menghabiskan miliaran Dollar miliknya. Ia pun membuat sebuah side-project, atau proyek sampingan yang bikin banyak orang terheran-heran, yaitu membuat pesawat terbang terbesar di dunia.

Allen memang memiliki sebuah perusahaan produksi pesawat terbang, Stratolaunch. Ambisi besarnya tersebut bakal mematahkan rekor pesawat raksasa yang selama ini dipegang oleh Antonov AN-225 milik Ukraina. Sebuah pesawat sebesar lapangan bola dengan fokus sebagai peluncur orbit rendah.

Diperkenalkan di hangarnya di gurun California, awal Juni lalu, terlihat bahwa pesawat Stratolaunch ini memiliki bentang sayap selebar 117 meter dengan panjang dari depan ke belakang 72 meter, dan tinggi 15 meter. Bahkan untuk menyangga bobot pesawat yang mencapai 1,3 juta pound (atau sekitar 590 ton) ini dibutuhkan barisan roda sebanyak 14 pasang (total 28 roda). Wow!

Pesawat Stratolaunch dijalankan dengan enam mesin high-bypass ratio turbofan. Allen menyebut mesin ini setara dengan enam buah mesin pesawat Boeing-737. Wajar saja, dengan bobot dan ukuran yang masif, tentu diperlukan kemampuan mesin yang sangat kuat untuk membuat pesawat Stratolaunch ini mengudara.

Bagi Allen, pesawat raksasa ini memiliki misi tersendiri, yaitu untuk membuka akses yang lebih mudah, andal, dan rutin ke orbit Bumi yang rendah.

Tak ada lagi kata mundur bagi pesawat Stratolaunch. Berikutnya, sang titan ini harus menjalani sejumlah ground test, mulai dari tes mesin hingga proses peluncurannya. Nantinya, sebuah perusahaan tak perlu lagi menggunakan roket-roket besar untuk meluncurkan satelit. Dengan Stratolaunch, proses peluncuran hanya memerlukan roket yang lebih kecil karena dimulai dari orbit. Bahkan kabarnya pesawat ini bakal bisa membawa tiga roket dalam satu misi penerbangan.

Menjelang peluncurannya, pesawat itu dipindahkan dari scaffolding tinggi yang menahannya. Dengan demikian, bobot pesawat secara langsung ditahan oleh ke-28 rodanya. Seiring dengan pelepasan rangka scaffolding, pesawat ini bakal menjalani sejumlah ground test mulai dari tes mesin serta berjalan di taxi way sebelum mulai terbang. Menurut jadwal perusahaan, pesawat buatan Stratolaunch ini akan memulai misi perdananya di tahun 2019.



Hak Cipta : KapanLagi Network