21 Agu 2017

FlatScope, Chip Implan Penyembuh Kebutaan Masa Depan

Chip yang dikembangkan oleh Rice University ini bernama FlatScope, yang merupakan panggilan akrab dari flat microscope.

Braito.co.id - Mata adalah organ yang sangat vital bagi manusia. Dengan mata, Sahabat Braito bisa berpetualang, keliling Nusantara, atau menikmati keindahan dunia. Pasti sangat sedih rasanya andai kemudian indera penglihatan terenggut begitu saja.

Memang, apa pun kondisi tubuhnya, manusia harus bersyukur kepada Tuhan. Beruntung pula, Tuhan memberikan ilmu pengetahuan supaya manusia bisa menyempurnakan kehidupan. Seperti yang dilakukan oleh sebuah tim dari Rice University, Texas, Amerika Serikat. Mereka memanfaatkan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi agar di masa mendatang, orang dengan kebutaan bisa melihat seperti pandangan manusia normal

Chip yang Ditanam di Otak

Tim peneliti tersebut tidak menciptakan mata bionic atau perlengkapan digital. Lebih dari itu, mereka mengembangkan sebuah chip. Ya, tubuh manusia nantinya bakal seperti slot microSD pada smartphone. Diberi tambahan chip yang ditanamkan pada tubuh ketika ingin menyempurnakan kekurangan.

Chip yang dikembangkan oleh Rice University ini bernama FlatScope, yang merupakan panggilan akrab dari flat microscope. Benda ini nantinya akan ditanamkan di otak manusia.

Dikembangkan Bersama DARPA

FlatScope ini merupakan hasil kerja sama bersama DARPA. Departemen yang dimiliki oleh AS dan bertanggung jawab mengembangkan teknologi yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Gelontoran dananya pun tak main-main, sebesar $4 juta selama empat tahun.

Berpendar Ketika Aktif

Disebutkan bahwa mikroskop datar (flat microscope) tersebut didesain agar bisa masuk dengan tepat di otak manusia. Perangkat ini kemudian mengawasi dan merangsang jaringan-jaringan otak dan berpendar ketika aktif. Flatscope kemudian akan memindahkan informasi visual lewat kode-kode digital kepada otak untuk menciptakan gambaran yang menggantikan pandangan mata normal.

Terinspirasi Smartphone

Salah seorang ilmuwan yang mengerjakan proyek FlatScope, Jacob Robinson, tampaknya terinspirasi oleh smartphone.

Jacob mengatakan, “Kita bisa menciptakan prosesor yang sangat padat dengan milyaran elemen dalam sebuah chip kecil untuk ponsel yang ada di saku Anda. Mengapa tidak mengaplikasikan hal ini untuk antarmuka saraf?

Dibantu oleh Richard Baraniuk, Ashok Veeraraghavan dam Caleb Kemere, Jacob pun mengembangkan FlatScope dengan tujuan mulia, menstimulasi jutaan neuron di otak dan membantu memberikan gambaran dunia kepada orang yang tidak memiliki penglihatan.

Masih Tahap Awal

Proyek gabungan Rice University dan DARPA ini masih dalam tahap awal. Dengan ekspektasi dan tingkat kesulitan yang sangat tinggi, mustahil bila FlatScope bisa selesai dalam satu atau dua tahun. Diperlukan proses penyempurnaan bertahun-tahun dan bertahap agar FlatScope benar-benar bisa ditanamkan di otak manusia untuk membantu mereka yang tidak bisa melihat.

Sebuah usaha yang patut diapresiasi oleh semua orang karena tujuannya yang sangat mulia. Tak hanya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan melaju sangat pesat, tapi juga mengajarkan kepada Sahabat Braito, betapa berharganya mata bagi manusia.

Karena itu, untuk yang masih memiliki penglihatan, jagalah kesehatan mata. Bahkan dari gangguan kesehatan mata yang ringan bisa berdampak besar, merusak, serta merenggut penglihatan. Untuk itu, jangan abai ketika mengalami iritasi mata akibat debu, asap kendaraan, asap pembakaran, rokok, dan lainnya.

Braito Original, obat tetes mata yang memiliki kandungan Tetrahydrozoline Hydrochloride 0,05% yang bekerja aktif meredakan iritasi mata ringan. Cukup 1-2 tetes Braito Original pada mata yang terasa sakit, 2-3 kali sehari untuk meringankan gejala-gejala, seperti mata merah, mata perih, atau mata berair. Bila gangguan terus terasa beberapa hari setelah pemakaian Braito Original, segera periksakan ke dokter mata untuk diagnosa dan perawatan lebih lanjut.



Hak Cipta : KapanLagi Network