23 Jun 2017

5 Alasan Kenapa Perlu Menonton Film "Ziarah"

Film tersebut berhasil menyabet dua penghargaan internasional di ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017.

Braito.co.id - Indonesia seakan tak pernah habis dalam memberikan kejutan di dunia perfilman. Selalu ada saja sesuatu yang baru dari para sineas, yang mendobrak dan bikin kagum, bukan hanya pecinta film dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Salah satu film Indonesia terbaru yang sedang ramai dibicarakan adalah Ziarah, yang disutradarai oleh B.W. Purba Negara. Film tersebut berhasil menyabet dua penghargaan internasional di ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017.

Apa yang membuat film tentang wanita renta bernama Mbah Sri yang berjuang menemukan makan suaminya ini begitu dihargai dunia?

Bintang Utamanya Bukan Selebritis

Karakter utama dalam film Ziarah ini adalah Mbah Sri. Peran tersebut dimainkan dengan sangat apik oleh Ponco Sutiyem, seorang petani berusia 95 tahun dari Gunung Kidul, Yogyakarta. B.W. Purba Negara mengaku harus blusukan ke desa-desa untuk menemukan karakter yang tepat untuk memerankan Mbah Sri ini hingga akhirnya takdir menuntunnya untuk bertemu dengan nenek Ponco Sutiyem.

Tema yang Jarang Terpikirkan, Namun Sangat Bermakna

Coba hitung, sebelum film Ziarah, berapa banyak film Indonesia yang mengangkat tema kehidupan seorang kakek atau nenek? Sulit untuk menjawabnya, bukan?

Ziarah menceritakan tentang perjalanan Mbah Sri menyusuri wilayah Gunung Kidul, tanpa bantuan anak atau cucunya, untuk menemukan makam suami yang tewas dalam Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Untuk memecahkan teka-teki tersebut, ia menemui para pejuang yang terlibat dalam peperangan itu.

Yang bikin haru, alasan Mbah Sri ingin menemukan makan suaminya adalah agar nantinya bisa dimakamkan di samping sang kekasih, Pawiro. Bisakah nenek tangguh ini menemukannya?

Terinspirasi Tsunami Aceh

Meski temanya dekat dengan perjuangan, B.W Purba Negara ternyata memiliki inspirasi dari tragedi tsunami di tahun 2004 yang terjadi di Aceh. Ia melihat bahwa kehilangan orang yang dicintai itu sangat berat ketika manusia tidak melihat jasadnya. Namun masyarakat Aceh harus bisa berdamai dengan rasa sakit tersebut dan melanjutkan kehidupan mereka.

Banjir Penghargaan

Karena idenya yang tidak biasa dan luar biasa ini, film Ziarah pun mendapatkan banyak penghargaan. Mulai dari Film Terbaik di Salamindanaw Film Festival 2016, Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016, Nominasi Penulis Skenario di Festival Film Indonesia 2016, Nominasi Film Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2016 dan Kompetisi Film di Jogja Netpac Asian Film Festival 2016. Sementara di ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Ziarah berhasil menyabet penghargaan Best Screenplay dan Special Jury Award. Khusus untuk penghargaan terakhir adalah untuk Mbah Ponco Sutiyem, yang berhasil mengangkat karakter Mbah Sri menjadi seperti nyata di film Ziarah.

Sederhana, Dengan Kejutan Besar di Akhir Cerita

Biar bikin Sahabat Braito makin penasaran, film Ziarah ini memiliki jalan cerita yang sederhana. Tapi jangan anggap bakal tidak ada kejutan di bagian akhirnya. Silahkan tonton sendiri untuk menemukan kejutan yang telah disiapkan oleh B.W. Purba Negara dan Mbah Ponco Sutiyem.

Film Ziarah sendiri sudah ditayangkan di bioskop tanggal 18 Mei 2017 lalu. Hanya saja sekarang hanya diputar di kota-kota tertentu saja, yaitu Jakarta dan Yogyakarta.

Untuk Sahabat Braito yang penasaran dengan akting Mbah Ponco Sutiyem dan kejutan film Ziarah, segera serbu bioskop-bioskop terdekat. Jangan lupa untuk selalu membawa Braito Tears di dalam tas. Siapa tahu, gara-gara terlalu asyik melihat peran Mbah Sri sampai lupa berkedip hingga terasa kering dan perih.

Cukup 1-2 tetes, 2-3 kali sehari Braito Tears dengan Hydroxy Propyl Methyl Cellulose akan membantu menyejukkan dan mengembalikan kelembapan mata supaya nonton film Ziarahnya bisa kembali fokus dan nyaman. Namun bila keluhan mata tersebut masih terus berlanjut, segera hubungi dokter mata untuk pemeriksaan lebih lanjut.



Hak Cipta : KapanLagi Network