Ada Ferrata, Panjat Tebing di Bandung Tak Lagi Biasa

By On Selasa, Mei 1st, 2018 Categories : Lifestyle

Braito.co.id – Liburan tidak hanya tentang kemping di gunung atau bersantai di pantai. Sebagai generasi muda Indonesia yang aktif dan dinamis, temukan juga cara menghabiskan libur yang anti-mainstream, dong!Ada Ferrata Panjat Tebing di Bandung Tak Lagi Biasa - Ada Ferrata, Panjat Tebing di Bandung Tak Lagi Biasa

Kebetulan di Jawa Barat ada satu tempat wisata yang menawarkan, tidak hanya anti-mainstream, tapi juga bikin dag-dig-dug, yaitu wisata panjat tebing. Ya, aktivitas yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah ahlinya itu kini bisa dilakukan oleh siapa saja.

Tempat wisata rock climbing tersebut berada di Gunung Parang, Kampung Cuhuni, Desa Sukamulya, Kec. Tegalwaru, Purwakarta. Wisatawan bakal diajak untuk mendaki ke puncak gunung cadas tersebut dengan menggunakan bantuan tali dan pijakan-pijakan besi. Perlu lebih dari sekadar nyali untuk memanjat di Ferrata ini. Mental pun juga bakal diuji habis-habisan. Namun peserta tidak perlu khawatir. Pihak pengelola pastinya sudah memastikan bahwa setiap orang mendapatkan keamanan semaksimal mungkin.

Perlengkapan keamanan yang akan digunakan untuk olahraga rock climbing via ferrata ini adalah seat harness, carabiner, lanyard arm, pelindung kepala atau helm, serta sarung tangan untuk melindungi kulit telapak tangan saat bergesekan dengan besi atau tali. Untuk yang melakukan pendakian di siang hari, sangat disarankan untuk menggunakan kacamata hitam, biar mata tidak capek dan kemasukan debu penyebab iritasi ringan. Makanya, simpan tetes mata Braito Original di saku baju atau tempat yang mudah dijangkau untuk membantu mengatasi mata merah akibat iritasi tersebut.

Sebelum memulai aktivitas menegangkan ini, peserta akan diberi petunjuk oleh pengelola. Bukan petunjuk untuk mendapatkan jodoh di atas Gunung Parang, tapi tentang bagaimana berinteraksi dengan perlengkapan mendaki dan cara climbing yang benar.

Selesai “siraman rohani,” dimulailah via ferrata dengan memanjat tebing melalui pijakan tangga besi. Sahabat Braito akan ditantang untuk terus memanjat hingga ketinggian 150 meter. Kalau takut ketinggian, ini saatnya untuk mengalahkan diri sendiri dan melampaui batas, serta yakin bahwa segala tantangan bisa ditaklukkan. Jangan khawatir, pendamping dan perlengkapan mendaki akan menjadi teman yang baik selama petualangan ini.

Sebagai catatan, via ferrata tidak hanya mengajak memanjat secara vertikal. Di beberapa titik, peserta bakal diajak menyusuri badan Gunung Parang secara horisontal, dengan berpegangan pada kawat baja. Setelah sampai di ketinggan 150 meter, peserta akan menemukan tempat beristirahat seperti goa kecil. Sebuah spot yang akan membuat Sahabat Braito memekik girang dalam hati karena berhasil mengalahkan rasa takut.

Eits, tunggu dulu. Perjalanan tidak berakhir di puncak Parang. Kecuali kalau tidak mau pulang dan ingin menetap di sana. Peserta kemudian kembali memacu adrenalinnya dengan menuruni lereng Parang, yang tidak kalah seru dibandingkan saat naik ke atas. Hingga di ketinggian 75 meter, peserta kemudian akan diajak untuk turun dengan teknik rappelling.

Sampai di bawah, jangan lupa untuk melakukan sujud syukur, sudah diberi keselamatan dan kesempatan untuk menikmati indahnya ciptaan Tuhan dengan cara yang “tidak biasa.” Setelah itu? Cari liburan anti-mainstream lain untuk menghabiskan libur Lebaran, dong.

Ada Ferrata, Panjat Tebing di Bandung Tak Lagi Biasa | Admin | 4.5